Film John Q, Refleksi Pelayanan Kesehatan di Indonesia



                                    Adegan Film John Q, Sumber :  www.filmsondisc.com


Film John Q ini berkisah tentang satu keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu, dengan seorang anak laki-laki berusia sekitar 10 tahun, yang bercita-cita menjadi atlit binaraga. Kisah keluarga John Q merupakan refleksi kisah keluarga sederhana kebanyakan.   John Archibad sang ayah yang diperankan oleh Denzel Washington, hanya bekerja sebagai buruh. Keluarga sederhana namun bahagia.

Namun pada suatu hari, kebahagiaan John Q terusik.  Anak laki-laki dari JohnQ diketahui mengalami masalah kesehatan : pembengkakan jantung.  Ukuran jantungnya menjadi 3 x dari ukuran normal, dan jika ingin tetap hidup, maka jantung anak laki-laki tersebut harus dioperasi, diganti dengan jantung baru.  Permasalahan berawal dari sini.

Kesulitan biaya akibat ketidakmampuan finansial John Q, menyebabkan pihak Rumah Sakit memutuskan untuk memulangkan anaknya.  Sebenarnya John Q telah berjuang keras mencari biaya, namun baru cukup untuk membayar uang muka saja.  Pihak RS tidak peduli perjuangan John Q mencari biaya demi anaknya bisa memperoleh pelayanan RS.  Perawat yang bertugas merawat sang anak menyampaikan Istri John Q, bahwa sang anak tetap akan dipulangkan.

Sang Ibu yang panik menelpon suaminya yang sedang mencoba mencari tambahan uang dengan menjual barang-barang keluarga mereka yang masih memiliki nilai. Dialog Sang istri dan Sang suami, menggambarkan keputusasaan mereka.  Mendengar anak mereka hendak dipulangkan pihak RS, sang ayah hanya dapat mendesah putus asa dan sedih, sambil berucap ”aku sudah berusaha”. Di gagang telpon istri terisak keras, dengan mimik tertekan ”Kau sudah melakukan semua, tapi belum cukup”!.  Mendengar itu John Q terduduk lemas.

Adegan selanjutnya, John Q datang menemui Dokter yang merawat anaknya. Minta waktu berbicara sebentar dengan Sang Dokter.

John: ”aku sudah membayar panjer, mengapa anakku mau dipulangkan ? ... Aku berjanji akan melunasinya, bagaimanapun caranya, tapi aku berjanji, demi keselamatan anakku”
Dokter : ” Aku hanya membuat rekomendasi John, yang membuat keputusan Dewan Rumah Sakit”.

John : ” Tolonglah, kau bisa melakukannya”

Dokter : ” Aku sudah berusaha maksimal, maafkan” ...

John : ” Belum, kau belum berusaha maksimal”. ”Aku membaca brosur RS, dalam setahun ada 300 operasi seharga $ 75.000,- ... masakan membantu satu untuk anakku tidak bisa ?!”

Dokter : ”Maafkan” .. kemudian dokter tersebut hendak pergi meninggalkan John.

John yang kalut mengeluarkan pistol dari pinggangnya dan menodongkan ke leher dokter. Dokter kaget dan mencoba menasehati John, bahwa yang dilakukannya salah. John menjawab, ia tak bisa hidup tanpa anak laki-lakinya. Yang terjadi kemudian, dokter, perawat, seorang sekuriti, dan beberapa pasien lalu disanderanya di satu ruangan.

Seperti umumnya adegan film Holywood, pihak kepolisian pun segera mengepung RS.
Pimpinan kepolisian mencoba mengajak bicara John, meminta John menghentikan aksinya, dan melepaskan sandera.  John menjawab ia tidak akan melakukannya sebelum anaknya dimasukkan dalam daftar teratas penerima donor jantung.

Pada awal penyanderaan, John menodong semua orang yang ada di ruangan sandera, termasuk seorang laki-laki kulit hitam. Orang tersebut mencurigakan, karena terbungkuk seolah mau mengambil sesuatu. Ternyata tangan laki-laki itu terluka dan mengalami pendarahan cukup hebat.Dokter mengingatkan John bahwa laki-laki itu harus segera mendapatkan perawatan, jika tidak akan berbahaya. John menimpali: ”kamu seorang dokter, lakukan tugasmu”. Akhirnya dokter tersebut meminta perawat untuk mengurus laki-laki yang terluka.

Sandera lain, seorang Ibu dengan aksen Meksiko datang ke RS itu untuk mengobatkan anaknya, namun rupanya bernasib mirip John.  Ia tidak punya kartu asuransi, sehingga RS tidak melayaninya. John pun berseru lantang : ”Kini RS ini ada dibawah kendali manajemen baru”. ”Siapa yang sakit, harus mendapat pelayanan kesehatan”. Dan anak tersebut segera memperoleh pelayanan. Satu lagi pasien adalah wanita hamil yang diantar suaminya karena hendak melahirkan. Karena alasan kemanusiaan, John membebaskan Ibu meksiko dan anaknya, serta Ibu hamil dan suaminya.

Ibu Meksiko, dan sandera lain yang baru dibebaskan ditanya media bagaimana John di mata mereka. Mereka menjawab ”John orang yang baik”. Masyarakat dan media yang ada di luar menjadi simpati pada John.

Diruangan penyanderaan ada kamera CCTV, yang dipakai pihak polisi untuk menganalisa keadaan. Pimpinan polisi mengambil keputusan untuk mengambil tindakan represif, menerjunkan pasukan khusus untuk melumpuhkan John.  John ditembak dari arah plafond, ia pun mengelosor terjatuh. Penembak jitu mengira John sudah dilumpuhkan. Ketika penembak jitu itu bergerak, plafon tempatnya bersembunyi ambrol, setengah tubuhnya menggantung di plafon. John bangkit dan segera menarik petugas polisi tersebut, dan memukulnya hingga pingsan. Rupanya John hanya terluka pada bagian lengannya. Petugas yang terjatuh tadi diikat.

Sementara itu rekaman langsung CCTV tersebut berhasil di bajak oleh salah satu media tv yang meliput, kemudian media tv tersebut menyiarkan sebagai tayangan eksklusif  secara 'live'. Akibatnya, warga menjadi tahu aksi represif petugas kepolisian, sehingga pimpinan polisi terpojok.

Akhirnya pihak RS bersedia menangani anak laki-laki John. Namun bukan berarti persoalan selesai. Jantung donor belum didapatkan. Dan tidak mudah untuk mendapatkan.  John memutuskan untuk menembak kepalanya. John rela bunuh diri, agar jantungnya dapat dipakai untuk menolong anaknya. Dokter yang semula melarangpun dibuat tak berdaya.  Rencana nekat  John tadi berhasil memaksa dokter berjanji untuk melakukan operasi transplantasi bagi anak laki-lakinya.

Setelah mendengar janji dokter, John membuka magasin pistolnya, mengambil sebutir peluru dari kantong celananya, dan mengisikan peluru itu untuk ditembakkan ke kepalanya.

Satu sandera terbengong, jengkel campur tak percaya, dan bertanya : ”Jadi selama ini pistolmu tidak berpeluru ?”.  Sambil tersenyum John menjawab: ”tak seorangpun yang ingin ku tembak, kecuali diriku”.

Disaat kritis, sekian detik sebelum Joh menarik pelatuk pistonya, datang jawaban. Istrinya mengabarkan bahwa pihak RS berhasil mendapat jantung untuk anak mereka. Seorang wanita korban kecelakaan meninggal, ternyata secara medis cocok menjadi donor anak mereka.

Ending cerita, John menyerahkan diri sesuai janjinya.
Anak John selamat.
John disidang dengan tiga (3) dakwaan: pertama percobaan pembunihan, kedua ancaman dengan senjata, dan terakhir penyanderaan.
Sidang memutuskan,
Dakwaan pertama, percobaan pembunihan, dianggap tidak terbukti.
Dakwaan kedua, ancaman dengan senjata, dianggap tak terbukti.
Dakwaan ketiga, penyanderaan, diputuskan bersalah, dan vonis diputuskan seminggu kemudian.

Kisah film John Q sungguh membuatku sangat terharu.  Perasaan berkecamuk yang sama barangkali juga dialami mereka yang menyaksikan film tersebut. 
Happy Ending.


Relevansi FIlm John Q dengan Pelayanan Kesehatan Indonesia

Tentang realitas pelayanan Rumah Sakit saat ini. Iwan Fals dalam satu lagunya menyitir secara tepat, bagaimana buruknya kualitas pelayanan Rumah Sakit dalam menghadapi pasien. Tak ada uang, jangan harap pelayanan. Keselamatan pasien hanya menjadi priorotas ke sekian. Jika yang melakukan RS swasta, yang memang profit oriented barangkali kita sedikit maklum, meskipun tidak bisa menerima seluruhnya. RS milik negara juga demikian. Jangankan yang tidak punya uang, pasien yang sudah masuk ke dalam pun tak jarang dilayani asal-asalan.

 Seperti yang terjadi sekitar tahun 1995, yakni ketika ayah dari seorang teman sakit darah tinggi dan jantung, sehingga harus diopname. Hidungnya harus dipasangi selang oksigen. Suatu malam teman yang menunggui ayanya, melihat sang ayah nafasnya tersengal-sengal. Segera ia berlari memberi tahu perawat jaga, lalu cepat-cepat kembali ke ruangan ayahnya. Tunggu punya tunggu perawat tidak datang-datang. Maka teman tadi kembali menemui perawat jaga. Sekali lagi perawat jaga mengatakan akan memeriksa. Sampai 4 x memberitahu, perawat belum juga memeriksa ayahnya, apalagi ketika dilihat perawat jaga tadi hanya ngobrol dengan temannya, mirip orang pacaran.  Temanku naik pitam, tinjunya pun melayang ke muka perawat pria. Barulah kemudian ada yang beranjak memeriksa.  Esoknya temanku memindahkan Sang Ayah ke RS. Swasta terdekat agar memperoleh pelayanan lebih baik.

Kisah lain terjadi pertengahan 2008. Bapakku terserang jantung koroner, sehingga setiap bulan wajib kontrol  ke dokter jantung. Sebagai pensiunan PNS, Bapak periksa ke RS Umum yang memiliki dokter jantung. Selama memeriksa dan konsultasi, dokter yang melayani hanya diam saja. Sebagai pasien, Bapak merasa perlu tahu kondisinya, maka berinisiatif bertanya. Anehnya dokter tadi dengan gerakan tubuh mengisyaratkan keberatan untuk bertanya jawab dengan pasien. Bapoak merasa kecewa.  Kejadian tersebut ternyata dikeluhkan pasien lain yang sama-sama menunggu obat di apotek. Pasien yang lain kemudian memberitahu :   "Kalau mau dilayani dengan baik, bisa bertanya soal kondisi kita, sebaiknya Bapak periksanya di tempat praktek pribadi dokter tadi".

Sesuai saran pasien tadi, esoknya Bapak periksa ke tempat praktek pribadi dokter tadi.  Dan betul saja, pelayanan dokter tadi berbeda 180 derajat. Dia dengan ramah mendengar keluhan, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Bapak. Wah sungguh menyenangkan !


Ada tiga (3) poin yang ingin saya lontarkan, sebagai refleksi dari realitas dan pengalaman terkait Film John Q.  Poin pertama yang ingin ku sampaikan adalah betapa menyedihkan, harga diri profesi seorang dokter tergadaikan hanya gara-gara selisih biaya tidak mencapai Rp. 100 ribu. Alangkah rendah moralitas seorang pelayan kesehatan yang demikian. Aku bersyukur, meskipun hidup sederhana Bapak mampu memikul biaya periksa ke dokter pribadi, tapi sekaligus sedih memikirkan bagaimana nasib mereka yang tidak mampu, yang hanya bisa mengakses pelayanan kesehatan lewat Jamkesmas ?!  Padahal jika orang sakit dilayani dengan menggembirakan, belum mendapat obat atau perawatan pun sudah mendapat penguatan. Sebaliknya jika dilayani dengan sikap menyakitkan, tentunya secara psikologis membuat pasien makin sakit.

Poin kedua, adalah mengenai sistem pelayanan kesehatan yang diselenggarakan negara. Aku yakin jika pelayanan kesehatan di RS negara baik, maka RS swasta di Indonesia tidak akan sesubur ini. Karena alasan pelayanan, mereka yang memiliki uang lebih memilih merogoh kantong lebih dalam, bahkan memilih ke luar negeri.

Jika tak dibenahi, maka kemandirian pelayanan kesehatan makin bergeser menjadi ketergantungan. Swasta, yang mungkin saja milik penanam modal asing akan makin berkibar. RS Internasionalpun makin menjamur, meskipun mengenai standar pelayanannya masih dipertanyakan. Janganklan standar internasional, standar pelayanan RS nasional pun kita belum punya. Yang penting gedungnya mewah, peralatannya canggih, kamarnya nyaman, barangkali sudah bisa basang label internasional. Konsekuensinya tarif yang dibayar pasien makin mahal.

Perlindungan semacam ini seharusnya dapat diberikan oleh pemerintah, baik dengan memberikan pelayanan lebih baik di RS. Umum milik pemerintah, maupun menerbitkan regulasi dan kebijakan yang berpihak pada masyarakat dan warga negaranya. Perbaikan kualitas sistem pelayanan kesehatan ini menjadi PR para politisi di DPR, Menteri Kesehatan (soal teknis dan kebijakan internal) , Menteri Keuangan (soal anggaran) dan Menteri Kesejahteraan Rakyat (soal peningkatan kualitas kehidupan), dan pihak-lain yang terkait. Koordinasi multisektor harus segera dirajut untuk mengemban mandat UUD, sebagaimana tercantum dalam Preambul: melindungi segenap bangsa Indonesia, Tumpah darah Indonesia ... dan bukan hanya kaum kaya saja !

Ketiga, Soal Keadilan Sosial. Para pemimpin dalam melayani rakyat harus memperhatika aspek keadilan. Kebijakan pembangunan masa lalu telah menelurkan dikotomi Jawa – Non Jawa, Muslim Non Muslim, Kaya – Miskin, Rakyat – Pejabat, ABRI-Sipil, dan seterusnya -- sesuatu yang seharusnya sudah selesai ketika Sumpah Pemuda dikumandangkan, ketika Proklamasi dibacakan. Bukankah Sumber Hukum, Pancasila dengan ke 36 butirnya dan Pembukaan UUD 45 sudah disiapkan untuk dapat mengampu itu semua ?

Apa artinya Sila Ketuhanan YME, Kemanusiaan, atau Persatuan, dan Muyawarah untuk mufakat, jika tidak mampu menghadirkan rasa Keadilan ?. Rakyat sudah semakin muak dengan keterpurukan, kemiskinan, dan berbagai problem sosial yang mereka rasakan setiap hari, sementara para pemimpin yang bergelimangan fasilitas, ternyata enggan untuk berkeringat menjalankan kewajiban.

Buat apa pejabat negara ini ada jika hakikat manfaatnya masih di awang-awang ?! Sekian banyak orang pintar, baik di Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif, dan Birokrat, problem dan persoalan belum dapat dipecahkan. Hal pertama yang perlu dilakukan sebelum bicara soal pelayanan adalah menata ulang dirinya terlebih dahulu. Lebih spesifik, mereka perlu belajar untuk peka dan peduli. Percuma pintar, hebat, jujur, santun, dan sederet kelebihan lainnya, jika kemudian tidak mau tahu dan masa bodoh atas situasi dan keadaan rakyat dan bangsanya. Apakah arti seorang pemimpin, jika yang dilakukan adalah melulu membentuk opini, dan tak pernah mampu melayani publik ?!

Jangan kemudian hanya untuk mendapatkan pelayanan yang manusiawi rakyat diprovokasi dengan pelayanan yang asal asalan, sehingga membangkitkan kemuakan dan kemarahan menjadi kenekatan ala John Q.  Saya pribadi sih setuju dengan kenekatan John Q sebagai bentuk kritikan dan sebagai upaya merebut keadilan.

Semoga para pemimpin sadar dan isyaf dengan keadaan, dan dengan Semoga Presiden Baru nanti kinerjanya seumpama John Q yang lantang berteriak: ”Kini Negara Ini berada di Bawah Managemen Baru .... siapa Sakit akan Diobati, Siapa Bodoh bisa belajar di Sekolah, Siapa Menganggur akan Bekerja dengan upah layak, Siapa Melanggar Hukum akan Dihukum ...”.

Semoga ...

Demikian Kutipan dan Renungan berjudul : Film John Q Refleksi Pelayanan Kesehatan di Indonesia.

Salam hangat,



Thomas Pras, 11 Januari 2010.
Title: Film John Q, Refleksi Pelayanan Kesehatan di Indonesia; Written by Thomas Pras; Rating: 5 dari 5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar