Film Rambo First Blood dan Indonesia

Gambar Adegan Film Rambo, First Blood.  Sumber: Klipd


Squel pertama film Rambo berjudul First Blood, merupakan film laga tahun 90-an (dirilis tahun 1982), berkisah tentang veteran perang bernama John Rambo yang dimainkan oleh Silvester Stalone. Rambo yang baru pulang dari menunaikan tugas perang di Vietnam, justru ditolak di negerinya sendiri.  Lantas apa relevansi Film Rambo dengan Indonesia ?

Ceritanya begini ... (biar udah pada nonton, tetap maksa cerita, ha ha)
Awalnya adalah keangkuhan Seorang sherif bernama Will Tease (kalo nggak salah .. ) dengan gegabah menolak, bahkan mengusir John Rambo yang berjalan masuk ke ‘kota-nya’. Rambo diantar paksa keluar dari kota itu. Sampai jembatan batas kota Rambo diturunkan.

Rambo merasa kesal, karena pelecehan sherif tersebut kemudian berjalan kembali ke arah kota itu. Sementara Si Sherif juga kesal karena perintahnya tidak di taati. Rambo pun ditangkap dan di-sel di kantornya. Rambo kembali mendapat pelecehan, dia dimandikan memakai selang semprot, tak ubahnya binatang.  Rambo mencoba bertahan untuk sabar.  Namun ketika akan dicukur paksa dengan menggunakan pisau tajam, Rambo memberontak, sepertinya dia ada trauma yang membekas dengan apa yang dialaminya di Vietnam. Petugas yang memegang pisau wajahnya mendadak ‘berganti’ menjadi wajah tentara vietkong.

Akhirnya dimulailah laga dalam film tersebut. Setelah menghajar beberapa petugas yang menghalanginya, rambo melarikan diri dari kantor sherif. Dia menuju hutan di mana ada bekas tambang batu bara. Di hutan tersebut akhirnya sherif angkuh tersebut merasakan kemarahan Sang Prajurit baret hijau yang mendapatkan mendali kepahlawanan.


Relevansi Film Rambo First Blood dengan Indonesia
Dari film tersebut saya mendapatkan beberapa hal yang relevan dengan situasi Indonesia, negeri kita tercinta, saat ini. Pertama, apa yang dilakukan sherif tersebut mencerminkan perilaku aparat kita. Seringkali mereka merasa diri mereka adalah hukum itu sendiri, tapi perilakunya malah seringkali melanggar hukum, misalnya naik motor tidak memakai helm, petentang-petenteng seperti jawara, dan yang paling umum: korup, eh tilang damai.  Ini kondisi waktu tahun 2010 lho, kalau sekarang kayaknya nggak ...... (silahkan diisi sendiri titik-titiknya, ha ha)

Kedua, penolakan sherif terhadap sang veteran untuk masuk ke wilayah bebas negerinya, tak beda dengan penguasa yang sering menolak dan melecehkan rakyatnya. Rakyat hanya dijadikan obyek dagangan di masa kampanye, atau di masa menjabat penderitaan rakyat bisa dijual sebagai alat pendongkrak citra, dan kendaraan melanggengkan kekuasaan saja.

Ketiga, Rambo yang mampu survive dalam situasi serba darurat adalah kekuatan tersembunyi rakyat yang terbiasa menderita; di usir dari kaki lima, digusur dari tempat tinggalnya, bahkan ketika rakyat terkena musibah bencana masih ada pejabat yang tega mengkorupsi dana dan material bantuan.

Keempat, Sebagaimana Rambo akhirnya marah karena dilecehkan, dipukuli, dan karena melawan untuk membela diri ia dikejar-kejar, bahkan ditembaki, padahal ia masuk kota hanya untuk makan.  Kesabaran rakyat pun ada batasnya. Perlakuan seperti pengusiran tempat mencari nafkah, penggusuran tempat tinggal tanpa pilihan alternatif, atau perilaku pejabat dan aparat yang korup, hidup mewah dari kemalasan, tak mampu memberikan kualitas pelayanan, akhirnya menjadi beban psikologis yang bertumpuk. Jika semua itu tidak segera diakhiri, bukan mustahil rakyat menjadi marah dan melakukan tindakan destruktif. Gelombang massa yang demikian telah terbukti menghancurkan kekuasaan otoriter suatu rezim militer yang sudah mengakar kuat selama 32 tahun.

Pertanyaan saya dan mungkin rakyat kebanyakan bisa jadi sama : Selama 12 tahun (sekarang sudah 16 tahun) rezim baru (reformasi) berkuasa, mengapa perilaku penguasa dan aparat makin menjadi-jadi ? Korupsipun dilegalkan dengan seperangkat produk hukum, bahkan sekelas undang-undang. Tak heran di suatu warung pinggiran kampus, di mana mahasiswa dan tukang ojek sering ngopi bareng, terdengar joke berbau politis, salah satunya begini :

Mahasiswa : ”Tau enggak apa bedanya Orde Baru sama Orde Reformasi ?!”
Tukang Ojeg : ”Tau dong, kita kan pinter, sering kuliah gratis dari numpang denger kalo dosen kalian ngasih kuliah”
Mahasiswa : ”Ya udah, kalau tau coba jawab dong Bang ...”
Tukang Ojeg : ”Gampang. Dengerin nih, waktu jaman ORBA, korupsinya di bawah meja. Gara-gara penguasa pada korupsi yang tersisa tinggal meja kursi ...”. Tukang Ojek sengaja menggantung jawabannya ...
Mahasiswa : ”Terus kalo korupsi di Orde reformasi emang gimana ?”
Tukang Ojek : ”Para pejabat korupsinya makin ok, sampe-sampe meja sama kursinya pun diembat, bablas kabeeeh ...” 
Mahasiswa : ”Ha ha, pinter beneran elo Bang, ha ha ”  
Lalu ia merogoh kantong celana jeans, dan mengangsurkannya pada tukang warung ... Bang, nih ceban buat bayar kopi empat”
Tukang Ojek : ”Wuih ditraktir kita, makasih ya ... tapi ngomong-ngomong bukan dari bokap korupsi kan ?!”
Mahasiswa : ” Sialan elo Bang ... eh tapi jangan-jangan iya ya ?! ha ha .. kalo bokap gue korupsi, mana mau gue ngopi di warung Bang Udin sama elo-elo pada ?! Kaga level !. Udah ah, gue masuk .. ada kuliah lagi ...”
Tukang Ojek : ”Belajar yang rajin ye, tapi kalo dah pinter jangan korupsi dan nipu kita-kita ya ”.


Btw nyambung nggak sih artikel ini sama judul ?
Semoga nyambung ya.  Eh ralat,semoga nggak nyambung lagi ... amit-amit jabang bayi  dah.  :D  
Tapi kalau masih nyambung, berarti nasib kita sama seperti pendapat Almarhum Gus Dur soal Pidato Penguasa : cukup dengar awalnya aja, habis itu tidur juga nggak papa, lha wong pidatonya cuma muter-muter, isinya ya itu-itu aja.  Persis nasib rakyat kali yaaa ...
Demikian Kutipan dan Renungan berjudul Film Rambo First Blood dan Indonesia.  
Semoga terhibur ...
Lho ?! ... :D

Salam Hangat.



Thomas Pras, 2 Februari 2010.
Title: Film Rambo First Blood dan Indonesia; Written by Thomas Pras; Rating: 5 dari 5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar